Facebook
RSS

Artikel KTP (Fotografi Sebagai Media Pembelajaran)

-
Epita Herbudiati


Dewasa ini kurikulum dan teknologi pendidikan yang terjadi di lingkungan sekolah disebut pendidikan formal, sebab sudah memiliki rancangan pendidikan berupa kurikulum tertulis yang tersusun secara sistematis, jelas, dan rinci. Peranan kurikulum dalam pendidikan formal di sekolah sangatlah strategis dan menentukan bagi tercapainya tujuan pendidikan. Kurikulum juga memiliki kedudukan dan posisi yang sangat sentral dalam keseluruhan proses pendidikan, bahkan kurikulum merupakan syarat mutlak dan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan itu sendiri. Daryanto (2011: 99)
Daryanto (2011, 99) menyatakan bahwa dalam praktik pembelajarannya kurikulum dan teknologi pendidikan di sini menggunakan model pembelajaran dengan media fotografi. Gambar fotografi secara luas dapat diperoleh dari berbagai sumber, misalnya dari surat kabar, majalah, brosur, dan buku. Gambar, lukisan, kartun, ilustrasi, foto yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut dapat digunakan oleh guru/dosen secara efektif dalam kegiatan belajar mengajar pada setiap jenjang pendidikan dan berbagai disiplin ilmu.
Gambar fotografi itu pada dasarnya membantu mendorong para siswa dan dapat membangkitkan minatnya pada pelajaran. Membantu mereka dalam mengembangkan kemampuan berbahasa, kegiatan seni, dan pernyataan kreatif dalam bercerita, dramatisasi,bacaan, penulisan, melukis, menggambar, serta membantu mereka menafsirkan dan mengingat-ingat isi materi bacaan dari buku teks. Dalam situasi tertentu, gambar fotografi merupakan sumber terbaik untuk tujuan penelitian atau penyelidikan.
Gambar fotografi sebagai media instruksional lainnya, harus dipilih dan dipergunakan sesuai denagn tujuan khusus mata pelajaran. Artinya, tidak bisa gambar-gambar itu hanya dipertunjukkan secara tersendiri, melainkan harus dipadukan kepada mata pelajaran tertentu. Oleh sebab itu pilihlah gambar-gambar fotografi inti yang dapat mengembangkan pemahaman bagi para siswa.
Gambar fotografi juga dapat dipergunakan oleh para siswa secara individual dalam latihan membaca dan untuk tujuan laporan yang bersifat khusus. Sekelompok kecil siswa dapat memanfaatkan gambar fotografi guna kegiatan diskusi tentang sesuatu pelajaran tertentu. Misalnya dalam pelajaran anatomi tubuh manusia, jenis-jenis species tertentu dari binatang, dan berbagai ras manusia.
Daryanto (2011: 101-102) menyatakan bahwa setiap guru/dosen hendaknya mengetahui bentuk media pembelajaran yang tepat untuk mencapai hasil yang paling baik, dalam situasi pengajaran yang diharapkannya. Untuk itu, setiap guru/dosen harus mengetahui secara tepat karakteristik dari gambar fotografi yaitu sebagai berikut : Gambar foto itu adalah dua dimensi. Dalam sudut pembelajaran hal itu menjadi amat penting, terutama bagi siswa muda atau untuk mata pelajaran yang rumit. Dalam pembelajarannya gambar fotografi harus memiliki kualitas tiga dimensi yang memadai untuk tujuan pengajaran, Gambar datar adalah medium yang “diam” atau disebut juga gambar tetap. Seperti halnya gambar pemandangan, gunung-gunung, hutan atau pohon-pohonan, bangunan, obyek, binatang atau manusia, dalam posisi diam merupakan subyek natural yang baik sekali untuk gambar datar, Gambar datar dapat memberi kesan gerak, misalnya gambar yang memperlihatkan adegan di jalan raya sangat efektif. Orang-orang yang lalu lalang, kendaraan yang lewat, pohon-pohon yang bergoyang ditiup angin. Semua itu tidak sukar bagi para pengamat dalam menghayati gerak dari adegan yang diperlihatkan pada gambar tersebut, Gambar datar menekankan gagasan pokok dan impres, bahwa untuk menilai dan memilih gambar datar yang baik harus menampilkan satu gagasan utama. Dengan adanya impresi atau tekanan pada satu gagasan pokok nilai gambar menjadi sangat berarti dalam pengajaran, Gambar datar memberi kesempatan untuk diamati rincinya secara individual, misalnya hasil pemotretan jagat raya dengan benda-benda langitnya, memerlukan pengamatan rincian gambar yang tekun, Gambar datar dapat melayani berbagai mata pelajaran, segala macam obyek dapat dipotret dari yang konkret sampai pada gagasan yang abstrak.
Sekalipun demikian setiap media pembelajaran selalau mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu, begitu juga halnya dengan gambar fotografi. Kelemahan-kelemahannya antara lain: beberapa gambarnya sudah cukup memadai, tetapi tidak cukup besar ukurannya jika digunakan untuk tujuan pengajaran kelompok besar, kecuali jika diproyeksikan melalui proyektor, gambar fotografi yang berdimensi dua sehingga sukar untuk melukiskan bentuk sebenarnya yang berdimensi tiga. Kecuali jika dilengkapi dengan beberapa gambar untuk objek yang sama atau adegan yang diambil dilakukan dari berbagai sudut pemotretan yang berlainan, gambar fotografi bagaimana pun juga keindahannya memperlihatkan gerak seperti halnya gambar hidup. Namun demikian, beberapa gambar fotografi yang disusun secara berurutan dapat memberikan kesan gerak dapat saja dicobakan, dengan maksud meningkatkan daya efektivitas proses belajar mengajar. Daryanto (2011: 101)
Selain itu gambar fotografi juga mempunyai kelebihan diantaranya adalah: gambar fotografi mudah dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar karena praktis tanpa memerlukan perlengkapan apa-apa, harganya relatif murah daripada jenis-jenis media pengajaran lainnya, cara memperolehnya pun mudah sekali tanpa perlu mengeluarkan biaya, yaitu dengan memanfaatkan kalender bekas, majalah, surat kabar dan bahan-bahan grafis lainnya, gambar fotografi juga dapat dipergunakan dalam banyak hal, untuk berbagai jenjang pengajaran dan berbagai disiplin ilmu. Mulai dari TK sampai dengan Perguruan Tinggi, dari ilmu-ilmu sosial sampai ilmu-ilmu eksakta. Selain itu gambar fotografi juga dapat menerjemahkan konsep atau gagasan yang abstrak menjadi realistik, gambar fotografi juga dapat mengubah tahap-tahap pengajaran, dari lambang kata beralih pada tahap yang lebih konkret yaitu lambang visual. Daryanto (2011: 100-101)
Daryanto (2011: 103) menyatakan bahwa dalam memilih gambar fotografi, ada lima kriteria untuk tujuan pengajaran, yaitu harus memadai untuk tujuan pengajaran, kualitas artistik, kejelasan dan ukuran yang cukup, validitas dan menarik.
Pertama, gambar fotografi itu harus cukup memadai. Artinya pantas untuk tujuan pengajaran, yaitu harus menampilkan gagasan, bagian informasi atau konsep jelas yang mendukung tujuan serta kebutuhan pengajaran. Dalam hal pemilihan gambar fotografi, perlu memperhatikan kesesuaiannya dengan tingkat usia anak, sedikit unsur terdapat di dalam gambar adalah cocok bagi anak-anak usia muda.
Kedua, gambar-gambar itu harus memenuhi persyaratan artistik yang bermutu. Misalnya melukiskan daerah pemukiman kumuh, hendaknya menekankan kesan kotor, jorok, kerumunan kehidupan yang padat dengan lingkungan tidak sehat.
Ketiga, gambar fotografi untuk tujuan pengajaran harus cukup besar dan jelas. Gambar yang tajam dan kontras mempunyai kelebihan karena ketepatan dan rinciannya menggambarkan kenyataan secara lebih baik. Hal yang tidak kurang pentingnya adalah besarnya gambar. Sehingga tampak jelas ke seluruh siswa.
Keempat, gambar-gambar fotografi yang melukiskan suasana dramatis atau mencekam, adegan yang ideal, lebih pantas dipajang daripada untuk tujuan pengajaran. Gambar-gambar yang representatif dari bidang studi tertentu yang menampilkan pesan yang benar menurut ilmu, merupakan gambar-gambar yang tepat untuk maksud pengajaran yang sahih.
Kelima, memikat perhatian pada anak-anak. Memikat perhatian pada anak-anak cenderung kepada hal-hal yang diminatinya, yaitu terhadap benda-benda yang akrab dengan kehidupan mereka. Misalnya, binatang-binatang, anak-anak, kereta api, perahu, kapal terbang, dan sebagainya.

Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam memergunakan gambar-gambar fotografi sebagai media visual pada setiap kegiatan pengajaran antara liain sebagai berikut : Pergunakanlah gambar untuk tujuan pelajaran yang spesifik, yaitu dengan cara memilih gambar tertentu yang akan mendukung penjelasan inti pelajaran atau pokok-pokok pelajaran. Tujuan khusus itulah yang mengarahkan minat siswa kepada pokok-pokok terpenting dalam pelajaran, Padukan gambar-gambar pada pelajaran, sebab keefektifan pemakaian gambar-gambar fotografi di dalam proses belajar mengajar memerlukan keterpaduan. Gambar-gambar yang riil sangat berfaedah untuk suatu mata pelajaran karena maknanya akan membantu pemahaman para siswa dan cara itu akan ditiru untuk hal-hal yang sama di kemudian hari, pergunakanlah gambar-gambar itu sedikit saja karena kadangkala menggunakan banyak gambar menjadi tidak efektif. Hematlah penggunaan gambar yang mengandung makna. Dengan kata lain, jumlah gambar yang sedikit tetapi selektif, kurangilah penambahan kata-kata pada gambar. Hal tersebut karena gambar-gambar itu justru sangat penting dalam mengembangkan kata-kata atau cerita dalam penyajian gagasan baru. Misalnya dalam pelajaran sejarah, para siswa mempelajari perbedaan gambar candi Jawa Tengah dan Jawa Timur, Mendorong pernyataan yang kreatif, melalui gambar-gambar siswa akan didorong untuk mengembangkan ketrampilan berbahasa lisan dan tulisan seni grafis dan bentuk-bentuk kegiatan lainnya, Mengevaluasi kemajuan kelas, dapat juga dengan memanfaatkan gambar-gambar, baik secara umum maupun secara khusus. Jadi, guru dapat mempergunakan gambar datar, slides atau transparan untuk melakukan evaluasi hasil belajar siswa. Daryanto (2011: 105)

Daryanto (2011: 107) menyatakan bahwa beberapa aplikasi media foto dalam proses pembelajaran antara lain sebagai berikut : Penggunaan media foto dalam meningkatkan kemampuan menulis cerpen. Media foto dalam konteks pembelajaran sangat efektifsebagai media visual untuk merangsang kreativitas imajinasi siswa. Di samping itu, penggunaan media pembelajaran yang tepat oleh guru akan meningkatkan hasil belajar siswa tersebut. Salah satunya dapat digunakan untuk merangsang daya imajinasi siswa dalam merangkai kata-kata pada penulisan cerita pendek, Penggunaan media photo story dalam pembelajaran. Photo story adalah bentuk penyajian gambar foto yang diambil berdasarkan topik atau peristiwa yang dibutuhkan sehingga tersusun. Kemudian, setiap gambar foto tersebut mampu “bercerita” dengan maksud mengambil suatu makna yang ada pada gambar tersebut. 

Jadi Kesimpulannya adalah kurikulum dan teknologi pendidikan disini menggunakan model pembelajaran dengan media fotografi. Gambar fotografi itu pada dasarnya membantu mendorong para siswa dan dapat membangkitkan minatnya pada pelajaran. Membantu mereka dalam mengembangkan kemampuan berbahasa, kegiatan seni, dan pernyataan kreatif dalam bercerita, dramatisasi, bacaan, penulisan, melukis, menggambar, serta membantu mereka menafsirkan dan mengingat-ingat isi materi bacaan dari buku teks. Gambar fotografi juga dapat dipergunakan oleh para siswa secara individual dalam latihan membaca dan untuk tujuan laporan yang bersifat khusus.

Gambar foto itu adalah dua dimensi. Dalam sudut pembelajaran hal itu menjadi amat penting, terutama bagi siswa muda atau untuk mata pelajaran yang rumit. Dalam pembelajarannya gambar fotografi harus memiliki kualitas tiga dimensi yang memadai untuk tujuan pengajaran. Gambar fotografi mudah dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar karena praktis tanpa memerlukan perlengkapan apa-apa, harganya relatif murah daripada jenis-jenis media pengajaran lainnya. Cara memperolehnya pun mudah sekali tanpa perlu mengeluarkan biaya. Gambar fotografi juga dapat dipergunakan dalam banyak hal, untuk berbagai jenjang pengajaran dan berbagai disiplin ilmu. Mulai dari TK sampai dengan Perguruan Tinggi, dari ilmu-ilmu sosial sampai ilmu-ilmu eksakta.




Daftar Pustaka
Daryanto. (2011). Media Pembelajaran. Bandung: Satu Nusa Studio