MAKALAH CLOUD COMPUTING
Disusun untuk memenuhi
tugas mata kuliah Teknologi Informasi
dan Komunikasi
Dosen Pengampu : Bp. Septia Lutfi
Oleh
Epita
Herbudiati
1102411021
Rombel 3
KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Seiring dengan perkembangan jaman, teknologi ini
juga mengalami perkembangan kearah pencapaian kemudahan dan kenyamanan luar
biasa dalam melakukan kegiatan sehari-hari yang dianggap tidak mungkin
dapat dikerjakan dalam waktu singkat. Baik berupa interaksi sosial, marketing,
dan kegiatan yang dapat menarik minat pengguna lainya. oleh karena itu,
pengguna internet meningkat cepat dan merambah kesemua
kalangan. Pengembangan teknologi computasi berbasis internet sekarang ini
lebih diarahkan kepada proses pengaplikasian sistem yang mudah dan tidak
memerlukan banyak waktu atau tenaga. Permasalahan diperoleh dalam pengolahan
system jaringan. Apabila ada suatu perubahan pada program aplikasi internet
pada server dalam jaringan lokal, datanya harus diinstal ulang atau disesuaikan
kembali. termasuk pada pemakaian komputer biasa, diperlukan sistem operasi dan
program aplikasi. Sistem operasi sangat menentukan program aplikasi. Kalau
pemakai memilih sistem operasi MS Windows misalnya, maka aplikasinya pun harus
berbasis Windows. Demikian juga kalau sistemnya berbasis DOS, Linux, Mac, dan
sebagainya. Padahal memilih sistem operasi sendiri sering membuat user pusing.
Sekarang konsep teknologi informasi Cloud Computing
sedang hangat dibicarakan. Istilah Cloud Computing mungkin belum banyak
didengar, karena memang masih baru. Namun, perkembangannya sangat luar biasa.
Disebut-sebut teknologi Could Computing dapat menghilangkan permasalahan yang
dijelaskan diatas. Perusahaan-perusahaan besar di bidang IT pun sekarang
mencurahkan perhatiannya ke sana. Apa sebenarnya cloud computing
itu? Komputasi awan merupakan istilah bagi dunia TI yang sistemnya hanya
disewa. Maksudnya, dalam menerapkan teknologi ini, pelanggan diharuskan untuk
menyewa beberapa komponen kerja di TI, seperti server penyimpanan data hingga
data center. Melihat dari tren ini kita dapat memprediksi masa depan, standard
teknologi akan menjadi lebih sederhana karena ketersediaan dari banyak cloud
service. Seluruh nama besar seperti IBM, Microsoft, Google, dan Apple, saat ini
sedang terlibat dalam peperangan untuk menjadi penguasa terbesar terhadap awan
ini. Tentu saja masing-masing mengeluarkan jurusnya sendiri-sendiri.
B.
RUMUSAN MASALAH
Dari
latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa
definisi Cloud Computing?
2. Bagaimana
sejarah Cloud Computing?
3. Apa
saja faktor pendorong Cloud Computing?
4. Apa
saja layanan yang terdapat pada Cloud Computing?
5. Bagaimana
Cara mengadopsi cloud computing?
6. Bagaimana
Manfaat cloud computing?
7. Bagaimana
Resiko cloud computing?
8. Apa
saja Fitur-fitur yang ada pada cloud computing?
9. Bagaimana
Kriteria cloud computing?
10. Bagaimana
karakterristik cloud computing?
11. Apa
saja tipe penerapan layanan cloud computing?
12. Apa
Kelebihan dan kelemahan dari cloud computing?
C.
TUJUAN
Dari
rumusan masalah diatas dapat diambil tujuan sebagai berikut :
1. Menjelaskan
definisi cloud computing.
2. Menjelaskan
sejarah cloud computing.
3. Menjelaskan
faktor pendorong cloud computing.
4. Menjelaskan
layanan yang terdapat pada cloud computing.
5. Menjelaskan
bagaimana Cara mengadopsi cloud computing.
6. Menjelaskan
Manfaat dari cloud computing.
7. Menjelaskan
resiko dari cloud computing.
8. Menjelaskan
Fitur-fitur cloud computing.
9. Menjelaskan
Kriteria cloud computing.
10. Menjelaskan
karakterristik cloud computing.
11. Menjelaskan
tipe penerapan layanan cloud computing.
12. Menjelaskan
Kelebihan dan kelemahan cloud computing.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Definisi Cloud Computing
Cloud
Computing adalah suatu istilah yang banyak digunakan oleh Industi IT yang
memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Namun pada intinya Cloud
Computing adalah suatu pergeseran dari perusahaan dalam membeli dan memelihara
server dan aplikasi on-premise yang mahal, dan bergerak menuju metode
penyewaan IT, sesuai dengan kebutuhan, dari satu penyedia layanan publik.
Cloud
Computing adalah suatu istilah yang banyak digunakan oleh Industi IT yang memiliki
arti yang berbeda bagi setiap orang. Namun pada intinya cloud computing
adalah suatu pergeseran dari perusahaan dalam membeli dan memelihara server dan
aplikasi on-premise yang mahal, dan bergerak menuju metode
penyewaan IT, sesuai dengan kebutuhan, dari penyedia layanan public cloud.
Hanya dalam
beberapa tahun terakhir hal ini telah menjadi layak dan masuk akal bagi
perusahaan untuk memindahkan teknologi mereka ke sebuah pusat data yang
dikelola secara profesional oleh pihak luar. Perubahan ini telah didorong oleh
mulai tersedianya Internet berkecepatan tinggi yang tidak hanya tersedia di
kantor Anda, tetapi juga di rumah, di warung kopi dan di mana saja anda dapat
melakukan penerimaan sinyal telepon seluler. Kenyataan ini telah memungkinkan
terjadinya konsolidasi yang revolusioner.
Alasan
ekonomi yang menjadi pendorong di belakang konsolidasi ini adalah penghematan
biaya yang signifikan dan pengurangan risiko yang diterima oleh perusahaan
ketika mereka memusatkan sumber daya teknologi mereka di sebuah pusat data yang
dikelola secara profesional oleh pihak luar. Penyedia layanan publik dapat
mengimplementasikan keamanan industri yang paling canggih dan proses
ketersediaan yang tinggi serta menawarkan pemantauan dan pemeliharaan server
24x7.
Biaya
teknologi yang lebih rendah karena penyedia layanan public dapat berbagi sumber
daya teknologi dan melakukan pembelian perangkat keras dan perangkat lunak
dalam jumlah besar untuk Anda. Saat ini, dengan biaya lebih murah perusahaan
dapat mendapatkan perangkat lunak terbaru maupun ketersediaan sistem yang
tinggi yang dulunya hanya bisa dijangkau oleh perusahaan besar.
2.
Sejarah
Cloud Computing
Ide
awal dari cloud computing bisa ditarik ke tahun 1960-an, saat John McCarthy, pakar komputasi MIT yang dikenal juga
sebagai salah satu pionir intelejensia buatan, menyampaikan visi bahwa “suatu
hari nanti komputasi akan menjadi infrastruktur publik, seperti halnya listrik
dan telepon”. Namun baru di tahun 1995 lah, Larry Ellison, pendiri Oracle ,
memunculkan ide “Network Computing” sebagai
kampanye untuk menggugat dominasi Microsoft yang saat itu merajai desktop
computing dengan Windows 95-nya. Larry Ellison
menawarkan ide bahwa sebetulnya user tidak memerlukan berbagai software, mulai
dari Sistem Operasi dan berbagai software lain, dijejalkan ke dalam PC Desktop
mereka. PC Desktop bisa digantikan oleh sebuah terminal yang langsung terhubung
dengan sebuah server yang menyediakan environment yang berisi berbagai
kebutuhan software yang siap diakses oleh pengguna.
Ide
“Network Computing” ini sempat menghangat dengan munculnya beberapa pabrikan
seperti Sun Microsystem dan Novell Netware yang
menawarkan Network Computing client sebagai pengganti desktop. Namun akhirnya,
gaung Network Computing ini lenyap dengan sendirinya, terutama disebabkan
kualitas jaringan komputer yang saat itu masih belum memadai, sehingga akses Network
Computing ini menjadi sangat lambat, sehingga orang-orang akhirnya kembali
memilih kenyamanan PC Desktop, seiring dengan semakin murahnya harga PC.
Tonggak selanjutnya adalah kehadiran konsep ASP (Application
Service Provider) di akhir era 90-an. Seiring dengan semakin
meningkatnya kualitas jaringan komputer, memungkinkan akses aplikasi menjadi
lebih cepat. Hal ini ditangkap sebagai peluang oleh sejumlah pemilik data
center untuk menawarkan fasilitasnya sebagai tempat ‘hosting’ aplikasi yang
dapat diakses oleh pelanggan melalui jaringan komputer. Dengan demikian
pelanggan tidak perlu investasi di perangkat data center. Hanya saja ASP ini
masih bersifat “privat”, di mana layanan hanya dikastemisasi khusus untuk satu
pelanggan tertentu, sementara aplikasi yang di sediakan waktu itu umumnya masih
bersifat client-server. Kehadiran berbagai teknik baru dalam pengembangan
perangkat lunak di awal abad 21, terutama di area pemrograman berbasis web
disertai peningkatan kapasitas jaringan internet, telah menjadikan situs-situs
internet bukan lagi berisi sekedar informasi statik. Tapi sudah mulai mengarah
ke aplikasi bisnis yang lebih kompleks.
Dan
seperti sudah sedikit disinggung sebelumnya, popularitas Cloud Computing
semakin menjulang saat di awal 2000-an, Marc Benioff ex VP di Oracle,
meluncurkan layanan aplikasi CRM dalam bentuk Software as a Service, Salesforce.com, yang mendapatkan sambutan
gegap gempita. Dengan misinya yang terkenal yaitu “The End of Software”,
Benioff bisa dikatakan berhasil mewujudkan visi bos-nya di Oracle, Larry
Elisson, tentang Network Computing menjadi kenyataan satu dekade kemudian.
Selanjutnya jargon Cloud Computing bergulir seperti bola salju menyapu dunia teknologi informasi. Dimulai di tahun 2005, mulai
muncul inisiatif yang didorong oleh nama-nama besar seperti Amazon.com yang
meluncurkan Amazon EC2 (Elastic Compute Cloud), Google dengan Google App
Engine-nya, tak ketinggalan raksasa biru IBM meluncurkan Blue Cloud Initiative
dan lain sebagainya. Semua inisiatif ini masih terus bergerak, dan bentuk Cloud
Computing pun masih terus mencari bentuk terbaiknya, baik dari sisi praktis
maupun dari sisi akademis. Bahkan dari sisi akademis, jurnal-jurnal yang
membahas tentang ini hal ini baru bermunculan di tiga tahun belakangan.
Akhirnya seperti yang kita saksikan sekarang, seluruh nama-nama besar terlibat
dalam pertarungan menguasai awan ini. Bahkan pabrikan Dell, pernah mencoba
mempatenkan istilah “Cloud Computing”, namun ditolak oleh otoritas paten
Amerika.
Walaupun
di luar negeri perebutan kapling awan ini begitu ingar-bingar, tidak demikian
dengan di tanah air Indonesia tercinta ini. Pemain yang benar-benar mencoba
masuk di area ini masih sangat sedikit. Salah satu yang cukup serius bermain di
area ini adalah PT Telkom, yang setidaknya saat ini sudah menawarkan dua
layanan aplikasi berbasis Software as a Service. Salah satunya melalui anak
usahanya, Sigma Cipta Caraka, yang menawarkan layanan aplikasi core banking
bagi bank kecil-menengah. Kemudian bekerjasama dengan IBM Indonesia dan mitra
bisnisnya, PT Codephile, Telkom menawarkan layanan e-Office on Demand untuk
kebutuhan kolaborasi/korespondensi di dalam suatu perusahaan atau organisasi.
Sepinya
sambutan dunia teknologi informasi dalam negeri terhadap Cloud Computing ini,
mungkin disebabkan beberapa faktor, di antaranya:
a) Penetrasi
infrastruktur internet yang bisa dibilang masih terbatas, bandwith masih
terbatas;
b) Tingkat
kematangan pengguna internet, yang masih menjadikan media internet utamanya
sebagai media hiburan atau sosialisasi;
c) Tingginya
investasi yang dibutuhkan menyediakan layanan cloud ini, karena harus merupakan
kombinasi antara infrastruktur jaringan, hardware dan software sekaligus.
Sehingga
saat gelombang besar Cloud Computing ini sampai di sini, tidak hanya pemain
asing besar saja yang akan menangguk keuntungan. Tentu saja peran pemerintah
sebagai fasilitator dan regulator sangat diperlukan di sini.
3. Faktor Pendorong cloud computing
Tren
perkembangan dunia komputer telah berubah sejak satu dekade terakhir. Komputer
terutama server yang pada awalnya berukuran besar semakin ke sini semakin kecil
dan ringkas. Sampai saat ini server yang terbilang cukup ringkas adalah jenis blade
server. Perubahan ini tidak lepas dari adanya penemuan dan kemajuan dalam
bidang processor. Sejak ditemukannya nano
technology, telah merubah platform CPU menjadi sebuah sistem yang sangat
ringkas dari segi fisiknya.
Faktor
yang turut mempengaruhi adalah adanya pemanasan global yang diakibatkan oleh
emisi gas buang serta kalor yang dihasilkan oleh seluruh aktivitas manusia.
Emisi gas buang yang dihasilkan dari industri, kendaraan bermotor, dan
aktivitas lainnya sangat berpotensi merusak lapisan ozon kita. Akibat dari hal
itu adalah sinar matahari langsung masuk menembus hingga ke permukaan bumi yang
pada akhirnya akan meningkatkan suhu di permukaan bumi. Untuk mencegah
kerusakan yang lebih parah, maka kini manusia berlomba-lomba menciptakan
teknologi yang ramah lingkungan alias Green Technology.
Kehidupan
manusia yang semakin dinamis dan mobile juga menjadi salah satu
faktor pendorong perkembangan teknologi komputasi menuju era cloud computing.
Kebutuhan user akan availability, reliability, flexibility, dan scalability
menjadi tuntutan yang harus dipenuhi sebagai sebuah garansi service atau
layanan. Dengan menerapkan teknologi cloud computing, maka keempat hal
tadi akan dapat dipenuhi dan nantinya akan mencapai pada tingkat investasi
dalam term cloud service yang cepat dan mudah.
Perubahan
paradigma di sisi manajemen dan keuangan juga menjadi faktor lain yang mendorong
pertumbuhan cloud computing saat ini. Dahulu manajemen biasa untuk
menginvestasikan dana di awal dalam bentuk Capital Expense yang
cukup besar agar ke depannya dapat menekan Operational Expense. Tapi
sejak ditemukannya teknologi cloud computing, Capital Expense
saat ini bisa dikurangi bahkan bisa ditiadakan dan cukup mengeluarkan biaya
untuk Operational Expense saja apabila kita menggunakan Public Cloud.
Bisa dibayangkan efisiensi yang di dapatkan jika kita menerapkan cloud
computing dalam organisasi kita.
4.
Layanan Cloud computing
Ternyata meskipun menggunakan internet sebagai
medianya, tidak semua layanan di internet disebut sebagai cloud computing
karena ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain:
a) Layanan
bersifat “On Demand“, pengguna dapat berlangganan sesuai dengan
kebutuhan, dan membayar hanya untuk yang mereka gunakan saja.
b) Layanan
bersifat elastis/scalable (Rapid Elasticity), di mana pengguna
bisa menambah atau mengurangi jenis dan kapasitas layanan yang dia inginkan
kapan saja dan sistem selalu bisa mengakomodasi perubahan tersebut.
c) Layanan
bersifat “BroadNetwork Access” yang sepenuhnya dikelola oleh penyedia/provider,
yang dibutuhkan oleh pengguna hanyalah komputer personal/notebook ditambah
koneksi internet.
d) Layanan
bersifat “Measured Service”, layanan cloud computing harus
disediakan secara terukur, karena nantinya akan digunakan dalam proses
pembayaran. Penggunaan layanan cloud computingdibayar sesuai
penggunaan, sehingga harus terukur dengan baik.
e) Layanan
Resource Pooling, layanan cloud computing harus
tersedia secara terpusat dan dapat membagi sumber daya secara efisien.
Karena cloud computing digunakan bersama-sama oleh berbagai
pelanggan, penyedia layanan harus dapat membagi beban secara efisien, sehingga sistem
dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Cloud
computing mempunyai 3 jenis layanan sebagai berikut, yaitu :
a. Infrastructure
as a Service (IAAS), dalam hal ini penyedia
hanya menyediakan sumber daya komputasi seperti prosesor, memori, dan storage yang
sudah tervirtualisasi. Namun, penyedia layanan tidak memasang sistem operasi
maupun aplikasi di atasnya. Pemilihan OS, aplikasi, maupun konfigurasi lainnya
sepenuhnya berada pada kendali user. Contohnya seperti Amazon
Elastic Compute Cloud dan Simple Storage Service.
b. Platform-as-a-service
(PAAS): hal ini memfokuskan pada aplikasi dimana dalam hal
ini memungkinkan developer untuk tidak memikirkan hardware dan tetap
fokus pada application development-nya tanpa harus
mengkhawatirkan operating system, infrastructure scaling,
load balancing dan lainya. Jadi Penyedia menyediakan layanan
berupa platform, mulai dari mengatur server-server mereka secara virtualisasi
sehingga sudah menjadi clustersampai menyediakan sistem operasi di
atasnya. Pengguna hanya perlu memasang aplikasi yang kita buat di server
tersebut. Contohnya yang telah mengimplementasikan ini adalah Force.com dan
Microsoft Azure investment.
c. Software-as-a-service
(SAAS): Hal ini memfokuskan pada aplikasi dengan Web-based
interface yang diakses melalui Web Service dan Web 2.0. contohnya adalah
Google Apps, SalesForce.com dan social network application seperti
Facebook.
Sedangkan dari sifat jangkauan
layanannya, terbagi menjadi Public Cloud, Private Cloud dan Hybrid Cloud.
a) Public
Cloud, menggambarkan cloud computing dalam
pengertian umum yang tradisional dimana sumber daya secara dinamis ditetapkan
dengan layanan mandiri melalui internet oleh pihak ketiga. Dengan menggunakan Public
Cloud ini kita dapat sedikit berhemat, karena tagihannya cukup berdasarkan
penggunaan sesuai kebutuhan.
b) Private
Cloud, merupakan jaringan proprietary atau data
center yang memasok layanan kepada orang-orang dengan lingkup dan jumlah
terbatas. Layanan ini merupakan layanan cloud yang dioperasikan hanya
untuk sebuah organisasi atau perusahaan tertentu. Infrastrukturnya bisa saja
dikelola secara mandiri maupun melalui pihak ketiga. Lokasinya pun bisa on-site
atau off-site. Biasanya layanan ini hanya digunakan oleh perusahaan
skala besar atau enterprise.
c) Hybrid
Cloud merupakan komposisi
dari dua atau lebih infrastruktur cloud (Private dan Public).
Walau secara entitas mereka tetap berdiri sendiri-sendiri, namun tetap
dihubungkan oleh suatu teknologi atau mekanisme yang memungkinkan portabilitas
data atau aplikasi di antara cloud tersebut.
5. Cara mengadopsi Cloud Computing
Ada dua
pendekatan umum untuk mengadopsi Cloud Computing; pendekatan tradisional dengan
melakukan pengembangan dari waktu ke waktu, atau pendekatan langsung dengan
migrasi langsung dari sistem yang berjalan di public cloud.
o
Dimulai dengan pendekatan tradisional ...
Pendekatan tradisional adalah pendekatan di mana anda melakukan
transformasi secara bertahap, dengan setiap tahap adalah pengembangan dari
tahap sebelumnya. Langkah pertama adalah mengadopsi teknologi virtualisasi
server (VMware, Hyper-V dll) dan menggunakannya di seluruh platform perangkat
keras yang dibeli dengan spesifikasi khusus; langkah berikutnya adalah
mengadopsi layer manajemen dan otomatisasi yang memungkinkan anda untuk
meningkatkan pemanfaatan investasi dari infrastruktur dan mulai memberikan
layanan yang lebih konsisten; selanjutnya mengadopsi kerangka IT Service
Management yang baru, mengotomatisasi permintaan layanan dan proses
provisioning, dan menerapkan sebuah mekanisme tagihan internal (chargeback);
kemudian setelah platform berjalan dengan stabil, mulailah menggunakan layanan
dari provider luar dan melakukan penggabungan platform internal dan eksternal
menjadi satu platform (hybrid cloud); akhirnya, ketika tiba saat membuat
keputusan bisnis yang tak terelakkan untuk menggunakan layanan IT dari pihak
luar, penggunaan sumber daya internal akan dihapuskan karena semua layanan bisa
didapatkan dari penyedia layanan public cloud.
Umumnya pendekatan tradisional ini dianggap sebagai pendekatan dengan
memilki tingkat risiko lebih rendah dalam mengadopsi cloud, namun
pendekatan ini umumnya akan menemui resistensi terbesar dari tim IT yang
berusaha menolak perubahan. Selain itu ada risiko lain yang muncul apabila
pembelian terjadi perangkat keras yang tidak tepat akibat usaha untuk
meminimalkan risiko keuangan melalui "memulai kecil" dan
pengembangan saat bisnis mulai berkembang; tetapi kemudian terbebani oleh
investasi yang tidak dapat dihilangkan dan harus dipertahankan dengan beban
yang disesuaikan dengan kapasitasnya.
o
Sekarang, pendekatan langsung ...
Dalam pendekatan ini, seluruh investasi awal (CapEx) dihindari, dan
sebaliknya, aplikasi internal/server tradisional yang ada dipindahkan langsung
ke penyedia layanan public cloud dengan sistem sewa (OpEx). Sebagai
langkah awal, seluruh aplikasi yang ada dicoba untuk dipindahkan ke layanan Software
as a Service (SaaS) yang memiliki fitur yang sama, tapi jika tidak
memungkinkan, seluruh server fisik beserta isinya disalin dan dipindahkan ke
dalam lingkungan Infrastructure as a Service (IaaS) tanpa memberikan
dampak kepada pengguna/user (umumnya bahkan mereka tidak akan sadar bahwa
server telah berpindah).
Pendekatan langsung ini memiliki keuntungan yang cukup banyak, terutama
meminimalkan investasi yang cukup besar di awal, juga memiliki beberapa
kelemahan, dibutuhkan penerapan segera tagihan internal/penggantian biaya, dan
memiliki strategi pendanaan IT yang dapat mengakomodasi perubahan dalam biaya
operasional.
Walaupun ada anggapan bahwa pendekatan tradisional saat ini dianggap
memiliki risiko terendah, namun sebenarnya pendekatan langsunglah yang memiliki
risiko terendah; ini dikarenakan adanya dua sistem yang berjalan secara aralel;
sistem lama tetap beroperasi pada platform internal, dan sistem baru yang
berjalan pada platform public cloud hingga saat yang tepat setelah
dilakukan pengujian dan kemudian melakukan pemadaman platform internal.
IndonesianCloud menyadari bahwa memulai transformasi ke cloud dapat
menjadi sesuatu hal yang membingungkan bagi banyak perusahaan, untuk itu, untuk
membantu mengenali hal-hal yang dibutuhkan, dan menentukan jalur mana yang
harus ditempuh, kami menawarkan serangkaian layanan konsultasi khusus yang
ditargetkan untuk menganalisa beban kerja internal dan menentukan profil risiko
serta kesesuaian dalam memilih platform berbasis cloud. Anda dapat
melakukan survei "Cloud readiness" yang sederhana (layanan
dari VMware) dengan mengikuti link berikut : http://getcloudready.vmware.com/crsa/
Gambar di bawah adalah representasi grafis dari dua jalur yang berbeda
dalam mengadopsi cloud computing; Rute 1 adalah pendekatan tradisional
(jalur biasa), dan Rute 2 merupakan rute langsung (bebas hambatan) menuju public
cloud.
6.
Manfaat
Cloud Computing
Manfaat cloud computing antaralain sebagai berikut :
a. SkalabilitasèMudah
meningkatkan kapasitas, sebagai kebutuhan
komputasi berubah, tanpa membeli peralatan tambahan.
b. AccessibilityèAkses data
dan aplikasi melalui internet dari mana saja. Mengurangi Biaya
c.
Shift BebanèFree staf TI
internal dari pembaruan dan isu-isu konstan.
7.
Resiko Cloud Computing
Sebagaimana yang dikatakan sebagai bisnis service, dengan teknologi cloud
anda sebaiknya mengetahui dan memastikan apa yang anda bayar dan apa yang anda
investasikan sepenuhnya memang untuk kebutuhan anda menggunakan service ini.
Anda harus memperhatikan pada beberapa bagian yaitu:
ü
Service level – Cloud provider
mungkin tidak akan konsisten dengan performance dari application atau
transaksi. Hal ini mengharuskan anda untuk memahami service level yang anda
dapatkan mengenai transaction response time, data protection dan kecepatan data
recovery.
ü
Privacy - Karena orang lain /
perusahaan lain juga melakukan hosting kemungkinan data anda akan keluar atau
di baca oleh pemerintah U.S. dapat terjadi tampa sepengetahuan anda atau
approve dari anda.
ü
Compliance - Anda juga harus
memperhatikan regulasi dari bisnis yang anda miliki, dalam hal ini secara
teoritis cloud service provider diharapkan dapat menyamakan level compliance
untuk penyimpanan data didalam cloud, namun karena service ini masih sangat
muda anda diharapkan untuk berhati hati dalam hal penyimpanan data.
ü
Data ownership – Apakah data
anda masih menjadi milik anda begitu data tersebut tersimpan didalam cloud?
mungkin pertanyaan ini sedikit aneh, namun anda perlu mengetahui seperti hal
nya yang terjadi pada Facebook yang mencoba untuk merubah
terms of use aggrement nya yang mempertanyakan hal ini.
ü
Data Mobility – Apakah anda
dapat melakukan share data diantara cloud service? dan jika anda terminate
cloud relationship bagaimana anda mendapatkan data anda kembali? Format apa
yang akan digunakan ? atau dapatkah anda memastikan kopi dari data nya telah
terhapus.
Untuk mengimplementasi teknologi cloud untuk data mereka dan menyimpan nya
sebagai fasilitas mereka sendiri untuk memastikan kebijakan perusahaan
tersimpan dengan baik tentunya akan lebih baik, sehingga memastikan proses
komputerasisasi pada cloud sebagai sistem proses yang dibutuhkan akan lebih
independen.
1.
Langkah awal yang harus anda lakukan
adalah mempelajari sistem kontrak dari cloud service. pastikan setiap process
menjadi simple, dapat berulang ulang dan menjadi nilai tambah untuk bisnis
anda.
2.
Kedua, anda harus mengidentifikasi
service apa yang dapat anda manfaatkan di dalam cloud dan mana yang seharusnya
bersifat internal. Hal ini sangat penting untuk anda ketahui mengenai system
dan service core yang dapat dimanfaatkan oleh bisnis anda. dan sebaiknya anda
mengkategorikan beberapa elemen bisnis anda berdasarkan resiko dari penggunaan
cloud service.
3.
Langkah terakhir, anda harus melakukan
strategi sourcing untuk mendapatkan biaya yang sangat murah, namun memiliki
scalability dan flexibility untuk kebutuhan bisnis anda. Hal ini termasuk
pertimbangan akan proteksi data ownership dan mobility, compliance dan beberapa
element seperti halnya kontrak IT tradisional.
8.
Fitur-fitur utama Google Apps untuk Pendidikan
adalah sebagai berikut:
o Gmail:
Ini bukan Gmail yang biasa kita pakai dimana akun email kita beralamat dengan
format: contoh@gmail.com. Gmail dalam
Google Apps adalah sebuah layanan webmail komunitas (baca: lembaga pendidikan)
yang dikelola oleh Administrator Google Apps lembaga yang bersangkutan. Dengan
demikian akun-akun email yang ada di dalamnya dibuat oleh Administrator dengan
format alamat khusus, misalnya: kepsek@smpn10-bdl.sch.id.
Alamat (URL)nya bukan lagi http://www.gmail.com
atau mail.google.com tapi format url-nya dapat seperti ini:
mail.smpn10-bdl.sch.id.
o Google Calendar: Administrator, Guru, dan siswa dapat
mengatur jadwa mereka (schedules) dan berbagi jadwal kegiatan dan kalender di
antara mereka. Google Calendar bisa juga digunakan untuk membuat jadwal
akademik atau kalender pendidikan dan menampilkannya dalam satu laman web yang
bisa diakses oleh siapapun yang diinginkan
o Google
Talk: Administrator, Guru, dan siswa dapat berbincang (online) dan mengirim
pesan instan ke rekan mereka di seluruh dunia, kapanpun dan dimanapun.
o Google
Docs: Berbagi dokumen, spreadsheet, and presentasi. Kolaborasi secara waktu
nyata (real-time) dengan tim Anda atau dengan seluruh civitas
sekolah. Anda dapat juga mempublikasikan dokumen akhir ke seluruh dunia.
o Google
Sites: Bekerja bersama untuk memelihara dokumen, isi web, dan informasi lainnya
dalam satu tempat, semacam sebuah website.
o Google
Video for education: Sebuah solusi dalam penempatan (hosting) dan berbagi video
yang memungkinkan sekolah dan organisasi lainnya untuk menggunakan video
sebagai media efektif untuk komunikasi dan kolaborasi online yang bersifat
internal.
Bahkan pengelola (administrator) Google Apps sebuah lembaga pendidikan
dapat memberi akses kepada para pemakainya ke sejumlah aplikasi Google yang
lain.
Sebagai suatu teknologi baru pasti mengundang pro dan kontra, begitu juga
dengancloud computing. Pro dan kontra tersebut terjadi karena tidak lepas dari
kelebihan dan kekurangan yang ada dari system teknologi baru tersebut. Berikut
kelebihan dari cloud computing :
a.
Kemudahan Akses
Ini merupakan kelebihan yang paling menonjol dari cloud computing, yaitu
kemudahan akses. Jadi kita tidak perlu berada pada suatu computer yg sama untuk
melakukan suatu pekerjaan, karena semua aplikasi dan data kita berada pada
server cloud.
b.
Fleksibilitas
Hampir sama seperti contoh di atas, data yg kita perlukan tidak harus
kita simpan di dalam harddisk atau storage computer kita. Dimanapun kita
berada, asalkan terkoneksi internet, kita bisa mengakses data kita karena berada
pada server cloud.
c.
Penghematan (Tanpa investasi awal)
Pastinya dengan adanya cloud computing, akan memungkinkan bagi perusahaan
untuk mengurangi infrastruktur IT yang pastinya memerlukan investasi yang
besar, baik berupa investasi hardware, software, maupun human resources nya.
d.
Mengubah CAPEX Menjadi OPEX
CAPEX = Capital Expenditure (pengeluaran modal), sedangkan OPEX =
Operational Expenditure (pengeluaran modal). Seperti kelebihan sebelumnya, ini
masih seputar masalah keuangan. Jadi dengan menggunakan teknologi cloud
computer ini, kita tidak harus melakukan pengeluaran modal, sebaliknya kita
hanya melakukan pengeluaran operational.
e.
Lentur dan Mudah Dikembangkan
Sesuai dengan salah 1 karakter cloud computing yaitu “Rapid Elasticity”,
maka ini juga merupakan salah 1 kelebihan cloud computing. Jadi customer bisa
dengan mudah menaikkan atau menurunkan resource yang dipakai, dan ini akan
mempengaruhi cost yang mereka keluarkan.
9.
Kriteria Cloud Computing
Seperti sudah sedikit dijelaskan dalam tulisan terdahulu, bahwa tidak
semua aplikasi berbasis web dapat dimasukkan ke dalam kategori cloud computing.
Ada lima kriteria yang harus dipenuhi oleh sebuah sistem untuk bisa di
masukkan dalam keluarga Cloud Computing, yaitu :
a.
Swalayan (On Demand Self Service)
Seorang pelanggan dimungkinkan untuk secara langsung
“memesan” sumber daya yang dibutuhkan, seperti processor time dan kapasitas
penyimpanan melalui control panel elektronis yang disediakan. Jadi tidak perlu
berinteraksi dengan personil customer service jika perlu menambah atau
mengurangi sumberdaya komputasi yang diperlukan.
b.
Akses Pita Lebar (Broadband Network Access)
Layanan yang tersedia terhubung melalui jaringan pita lebar,
terutama untuk dapat diakses secara memadai melalui jaringan internet, baik
menggunakan thin client, thick client ataupun media lain seperti smartphone.
c.
Sumberdaya Terkelompok (Resource pooling)
Penyedia layanan cloud, memberikan layanan melalui sumberdaya
yang dikelompokkan di satu atau berbagai lokasi date center yang terdiri dari
sejumlah server dengan mekanisme multi-tenant. Mekanisme multi-tenant ini
memungkinkan sejumlah sumberdaya komputasi tersebut digunakan secara
bersama-sama oleh sejumlah user, di mana sumberdaya tersebut baik yang
berbentuk fisik maupun virtual, dapat dialokasikan secara dinamis untuk
kebutuhan pengguna/pelanggan sesuai permintaan.
Dengan demikian, pelanggan tidak perlu tahu bagaimana dan
darimana permintaan akan sumberdaya komputasinya dipenuhi oleh penyedia
layanan. Yang penting, setiap permintaan dapat dipenuhi. Sumberdaya komputasi
ini meliputi media penyimpanan, memory, processor, pita jaringan dan mesin
virtual.
d.
Elastis (Rapid elasticity)
Kapasitas komputasi yang disediakan dapat secara elastis dan
cepat disediakan, baik itu dalam bentuk penambahan ataupun pengurangan
kapasitas yang diperlukan. Untuk pelanggan sendiri, dengan kemampuan ini
seolah-olah kapasitas yang tersedia tak terbatas besarnya, dan dapat “dibeli”
kapan saja dengan jumlah berapa saja.
e.
Layanan Yang Terukur (Measured Service)
Sumberdaya cloud yang tersedia harus dapat diatur dan
dioptimasi penggunaannya, dengan suatu sistem pengukuran yang dapat mengukur
penggunaan dari setiap sumberdaya komputasi yang digunakan (penyimpanan,
memory, processor, lebar pita, aktivitas user, dan lainnya). Dengan demikian,
jumlah sumberdaya yang digunakan dapat secara transparan diukur yang akan
menjadi dasar bagi user untuk membayar biaya penggunaan layanan.
10.
Karakteristik Cloud Computing
o
Cloud service biasanya memiliki beberapa
karakteristik, diantaranya adalah:
o
Sangat cepat di deploy, sehingga cepat berarti
instant untuk implementasi.
o
Biaya start-up teknologi ini mungkin akan sangat
murah atau tidak ada dan juga tidak ada investasi kapital.
o
Biaya dari service dan pemakaian akan
berdasarkan komitmen yang tidak fix.
o
Service ini dapat dengan mudah di upgrade atau
downgrade dengan cepat tampa adanya Penalty.
o
Service ini akan menggunakan metode multi-tenant
(Memungkinkan banyak customer dalam 1 platform).
o
Kemampuan untuk meng-customize service akan menjadi
terbatas.
Layanan cloud memiliki tiga karakteristik khusus yang
membedakannya dari hosting tradisional. Layanan ini dijual berdasarkan
permintaan, yang biasanya per menit atau per jam dan bersifat elastis, user
boleh memiliki berapapun layanan yang diinginkan sesuai waktu yang diberikan,
dan layanan ini dikelolah penuh oleh provider (pelanggan hanya perlu komputer
dan akses Internet). Inovasi-inovasi yang signifikan dalam hal virtualisasi dan
distributed computing, termasuk juga peningkatan akses ke Internet berkecepatan
tinggi dan perbaikan ekonomi, telah meningkatkan ketertarikan orang kepada
cloud computing.
Sebuah cloud bisa berlabel privat atau publik. Public Cloud menjual
layanan ke siapapun di internet. (Saat ini, Amazon Web Service merupakan provider
public cloud terbesar) Private Cloud adalah jaringan proprietary atau data
center yang mensuplai layanan-layanan ter-host kepada orang-orang dalam jumlah
terbatas. Jika sebuah service provider menggunakan sumber-sumber milik private
cloud, maka hasilnya disebut virtual private cloud. Private atau publik, tujuan
dari cloud computing adalah menyediakan akses yang mudah, skalabel kepada
sumber-sumber komputasi dan layanan TI.
Teknologi cloud akan memberikan kontrak kepada user untuk service pada 3
tingkatan:
a)
Infrastructure as Service, hal ini
meliputi Grid untuk virtualized server, storage & network. Contohnya
seperti Amazon Elastic Compute Cloud dan Simple Storage Service;
b)
Platform-as-a-service: hal ini
memfokuskan pada aplikasi dimana dalam hal ini memungkinkan developer untuk
tidak memikirkan hardware dan tetap fokus pada application development nya
tampa harus mengkhawatirkan operating system, infrastructure scaling, load
balancing dan lainya. Contoh nya yang telah mengimplementasikan ini adalah Force.com
dan Microsoft Azure investmen.
c)
Software as a Service (SaaS).
SaaS ini
merupakan layanan Cloud Computing yang paling dahulu populer. Software as a
Service ini merupakan evolusi lebih lanjut dari konsep ASP (Application Service
Provider). Sesuai namanya, SaaS memberikan kemudahan bagi pengguna untuk bisa
memanfaatkan sumberdaya perangkat lunak dengan cara berlangganan. Sehingga
tidak perlu mengeluarkan investasi baik untuk in house development ataupun
pembelian lisensi.
Dengan cara berlangganan via web, pengguna dapat langsung menggunakan
berbagai fitur yang disediakan oleh penyedia layanan. Hanya saja dengan konsep
SaaS ini, pelanggan tidak memiliki kendali penuh atas aplikasi yang mereka
sewa. Hanya fitur-fitur aplikasi yang telah disediakan oleh penyedia saja yang
dapat disewa oleh pelanggan.
Dan karena arsitektur aplikasi SaaS yang bersifat multi tenant, memaksa
penyedia untuk hanya menyediakan fitur yang bersifat umum, tidak spesifik
terhadap kebutuhan pengguna tertentu. Meskipun demikian, kustomisasi tidak
serta-merta diharamkan, meskipun hanya untuk skala dan fungsi yang terbatas.
Tapi dengan berkembangnya pasar dan kemajuan teknologi pemrograman,
keterbatasan-keterbatasan itu pasti akan berkurang dalam waktu tidak terlalu
lama. Untuk contoh layanan SaaS, tentu saja kita harus menyebut layanan CRM
online Salesforce.com–yang dikomandai Marc Benioff dan telah menjadi ikon SaaS
ini.
Selain itu Zoho.com, dengan harga yang sangat terjangkau, menyediakan
layanan SaaS yang cukup beragam, dari mulai layanan word processor seperti
Google Docs, project management, hingga invoicing online. Layanan akunting
online pun tersedia, seperti yang diberikan oleh Xero.com dan masih banyak
lagi. IBM dengan Lotuslive.com nya dapat dijadikan contoh untuk layanan SaaS di
area kolaborasi/unified communication.
Sayangnya untuk pasar dalam negeri sendiri, seperti sudah saya sampaikan
dalam tulisan terdahulu, masih sangat sedikit yang mau berinvestasi untuk
menyediakan layanan SaaS ini.
a.
Platform as a Service (PaaS)
Seperti namanya, PaaS adalah layanan yang menyediakan modul-modul siap
pakai yang dapat digunakan untuk mengembangkan sebuah aplikasi, yang tentu saja
hanya bisa berjalan diatas platform tersebut. Seperti juga layanan SaaS,
pengguna PaaS tidak memiliki kendali terhadap sumber daya komputasi dasar
seperti memory, media penyimpanan, processing power dan lain-lain, yang
semuanya diatur oleh provider layanan ini. Pionir di area ini adalah
Google AppEngine, yang menyediakan berbagai tools untuk mengembangkan aplikasi
di atas platform Google, dengan menggunakan bahasa pemrograman Phyton dan
Django.
Kemudian Salesforce juga menyediakan layanan PaaS melalui Force.com,
menyediakan modul-modul untuk mengembangkan aplikasi diatas platform Salesforce
yang menggunakan bahasa Apex. Dan mungkin yang jarang sekali kita ketahui,
bahwa Facebook juga bisa dianggap menyediakan layanan PaaS, yang memungkinkan
kita untuk membuat aplikasi diatasnya. Salah satu yang berhasil menangguk
untung besar dari layanan PaaS Facebook adalah perusahaan bernama Zynga, yang
tahun lalu saja berhasil meraup keuntungan bersih lebih dari US$ 100 juta,
lebih besar dari keuntungan yang didapat oleh Facebook sendiri. Anda
mungkin akan sedikit terkejut kalau saya beritahu bahwa Zynga ini bisa untung
besar dari aplikasi yang sama sekali tidak serius, tapi mengandung zat adiktif
luar biasa yaitu: Farmville, yang hingga kini telah berhasil menjadikan 80 juta
lebih penduduk Facebook menjadi petani yang rajin mencangkul, menanam dan panen
serta memerah susu sapi demi keuntungan mereka.
b.
Infrastructure as a Service (IaaS).
IaaS terletak satu level lebih rendah dibanding PaaS. Ini adalah sebuah
layanan yang “menyewakan” sumberdaya teknologi informasi dasar, yang meliputi
media penyimpanan, processing power, memory, sistem operasi, kapasitas jaringan
dan lain-lain, yang dapat digunakan oleh penyewa untuk menjalankan aplikasi
yang dimilikinya.
Model bisnisnya mirip dengan penyedia data center yang menyewakan ruangan
untuk co-location, tapi ini lebih ke level mikronya. Penyewa tidak perlu tahu,
dengan mesin apa dan bagaimana caranya penyedia layanan menyediakan layanan
IaaS. Yang penting, permintaan mereka atas sumberdaya dasar teknologi informasi
itu dapat dipenuhi.
Perbedaan mendasar dengan layanan data center saat ini adalah IaaS
memungkinkan pelanggan melakukan penambahan/pengurangan kapasitas secara
fleksibel dan otomatis. Salah satu pionir dalam penyediaan IaaS ini adalah
Amazon.com yang meluncurkan Amazon EC2 (Elastic Computing Cloud).
Layanan Amazon EC2 ini menyediakan berbagai pilihan persewaan mulai CPU,
media penyimpanan, dilengkapi dengan sistem operasi dan juga platform
pengembangan aplikasi yang bisa disewa dengan perhitungan jam-jaman. Untuk di
dalam negeri sendiri, rencananya ada beberapa provider yang akan menyediakan
layanan sejenis mulai pertengahan tahun ini.
11.
Tipe Penerapan Layanan Cloud Computing
Tipe-tipe penerapan(deployment) dari layanan Cloud Computing,
yang terbagi menjadi empat jenis penerapan, yaitu:
Di mana sebuah infrastruktur layanan cloud, dioperasikan hanya untuk
sebuah organisasi tertentu. Infrastruktur cloud itu bisa saja dikelola oleh si
organisasi itu atau oleh pihak ketiga. Lokasinya pun bisa on-site ataupun
off-site. Biasanya organisasi dengan skala besar saja yang mampu
memiliki/mengelola private cloud ini.
Dalam model ini, sebuah infrastruktur cloud digunakan bersama-sama oleh
beberapa organisasi yang memiliki kesamaan kepentingan, misalnya dari sisi
misinya, atau tingkat keamanan yang dibutuhkan, dan lainnya.
Jadi,
community cloud ini merupakan “pengembangan terbatas” dari private cloud. Dan
sama juga dengan private cloud, infrastruktur cloud yang ada bisa di-manage
oleh salah satu dari organisasi itu, ataupun juga oleh pihak ketiga.
Sesederhana namanya, jenis cloud ini diperuntukkan untuk umum oleh
penyedia layanannya. Layanan-layanan yang sudah saya sebutkan sebelumnya dapat
dijadikan contoh dari public cloud ini.
Untuk jenis ini, infrastruktur cloud yang tersedia merupakan komposisi
dari dua atau lebih infrastruktur cloud (private, community, atau public). Di
mana meskipun secara entitas mereka tetap berdiri sendiri-sendiri, tapi
dihubungkan oleh suatu teknologi/mekanisme yang memungkinkan portabilitas data
dan aplikasi antar cloud itu. Misalnya, mekanisme load balancing yang
antarcloud, sehingga alokasi sumberdaya bisa dipertahankan pada level yang
optimal.
Demikian sedikit penjelasan dari model-model cloud yang disarikan dari
NIST. Namun seperti diakui oleh lembaga ini, definisi dan batasan dari Cloud
Computing sendiri masih mencari bentuk dan standarnya. Di mana nanti pasarlah
yang akan menentukan model mana yang akan bertahan dan model mana yang akan
mati.
Namun semua sepakat bahwa cloud computing akan menjadi masa depan dari
dunia komputasi. Bahkan lembaga riset bergengsi Gartner Group juga telah
menyatakan bahwa Cloud Computing adalah wacana yang tidak boleh dilewatkan oleh
seluruh pemangku kepentingan di dunia TI, mulai saat ini dan dalam beberapa
waktu mendatang.
12.
Kelebihan
Dan Kekurangan Cloud Computing
Berikut Beberapa Penjelasan Kelebihan Dan Kekurangan adalah sebagai
berikut :
Kelebihan :
1.
Keuntungan bagi para pelaku bisnis adalah minimalisasi
biaya investasi infrastruktur publik sehingga bisnis bisa lebih terfokus pada
aspek fungsionalitasnya,
2.
Bagi application developer,
layanan PaaS memungkinkan pengembangan dan implementasi aplikasi dengan cepat
sehingga meningkatkan produktivitas,
3.
Bagi para praktisi yang bergerak di industri TI, hal
ini berarti terbukanya pasar baru bagi industri jasa pengembangan teknologi
informasi,
4.
Bagi pebisnis di bidang infrastruktur, hal ini
merupakan peluang yang besar karena dengan meningkatnya penggunaan layanan SaaS
ini akan meningkatkan penggunaaan bandwidth internet,
Kekurangan :
1.
service level, artinya kemungkinan service performance
yang kurang konsisten dari provider. Inkonsistensi cloud provider ini meliputi,
data protection dan data recovery,
2.
privacy, yang berarti adanya resiko data user akan
diakses oleh orang lain karena hosting dilakukan secara bersama-sama,
3.
compliance, yang mengacu pada resiko adanya
penyimpangan level compliance dari provider terhadap regulasi yang diterapkan
oleh user,
4.
data ownership mengacu pada resiko kehilangan
kepemilikan data begitu data disimpan dalam cloud,
5.
data mobility, yang mengacu pada kemungkinan share data
antar cloudservice dan cara memperoleh kembali data jika suatu saat
usermelakukan proses terminasi terhadap layanan cloud Computing.
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Setelah melihat penjelasan diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa dengan
adanya Cloud computing ini kita tidak perlu memiliki server, listrik, ruang
server, staff operasional, storage, software, dan biaya terkait infrastruktur
IT lainnya. Kita hanya perlu mengaksesnya berupa layanan dan membayar sesuai
yang kita butuhkan. Cloud computing sangat dibutuhkan terutama dibidang
pendidikan karena dapat menghemat biaya yang cukup mahal dan menghindari
penerapan teknologi yang rumit.
Cloud computing pada bidang pendidikan antara lain Yahoo email atau Gmail.
Anda tidak perlu software atau server untuk menggunakannya. Semua konsumen
hanya perlu koneksi internet dan mereka dapat mulai mengirimkan email. Software
manajemen email dan serber semuanya ada di cloud (internet) dan secara total
dikelola oleh provider seperti Yahoo, Google, etc. Konsumen hanya perlu
menggunakan software itu sendiri dan menikmati manfaatnya.
Salah satu contoh penerapan cloud computing yaitu Google Apps, suatu
layanan yang disediakan oleh Google. Google Apps merupakan kumpulan berbagai
aplikasi Google yang secara terintegrasi dapat digunakan oleh sebuah komunitas
(umum, bisnis, pendidikan dan lembaga non profit). Google apps terdiri dari 3
macam, yakni Google Apps Gratis, Google Apps untuk bisnis (berbayar tetapi
dengan fitur yang lebih), Google Apps untuk Pendidikan (gratis bagi lembaga
pendidikan dan lembaga non profit dengan fitur yang menyerupai Google Apps
Bisnis).
DAFTAR PUSTAKA


Posting Komentar